Layanan darurat kepolisian melalui call center 110 menjadi salah satu garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat selama arus mudik Lebaran. Di balik layanan tersebut, terdapat para operator 110 Polres Klaten yang bekerja tanpa henti menerima berbagai laporan, keluhan, hingga kondisi darurat dari masyarakat.
Salah satunya adalah BRIGPOL Anggara Krishna Laksmana, operator layanan 110 Polres Klaten yang telah bertugas selama empat tahun. Ia mengungkapkan bahwa selama pelaksanaan Operasi Ketupat, terjadi lonjakan signifikan jumlah panggilan yang masuk dibandingkan hari-hari biasa.
Menurutnya, peningkatan ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan cepat dan responsif, terutama di tengah mobilitas tinggi saat musim mudik. Beragam laporan pun masuk, mulai dari kemacetan lalu lintas, permintaan informasi jalur tol, hingga aduan terkait gangguan kamtibmas seperti konvoi knalpot brong, petasan, hingga aktivitas takbiran yang mengganggu ketertiban.
“Selama Ops Ketupat jumlah panggilan 110 naik hingga lebih dari 100 persen dibandingkan bulan-bulan biasanya.” BRIGPOL Anggara Krishna Laksmana, Minggu (22/3/2026).
Tidak hanya menerima laporan umum, operator 110 juga kerap menghadapi situasi yang menyentuh sisi kemanusiaan. Anggara menceritakan salah satu pengalaman berkesan saat menerima laporan lintas wilayah yang membutuhkan koordinasi cepat antar kepolisian.
Ia juga mengaku tetap memberikan pelayanan maksimal meskipun menghadapi penelepon dengan kondisi emosional yang beragam, termasuk yang diduga mengalami gangguan kejiwaan. Bagi dirinya, setiap panggilan tetap harus ditangani dengan pendekatan humanis.
“Ada penelepon dari Sleman yang melaporkan ibunya di Ciputat mengalami kekerasan, dan kami langsung meneruskan ke Polres setempat. Bahkan ada juga telepon dari orang yang diduga mengalami gangguan kejiwaan, tetap kami respon dengan baik.” BRIGPOL Anggara Krishna Laksmana.
Dalam menjalankan tugasnya, Anggara juga menghadapi berbagai tantangan, termasuk tekanan emosional dari masyarakat yang tengah mengalami masalah. Ia mencontohkan pengalaman saat menghadapi seorang penelepon yang marah karena merasa tidak mendapatkan respons cepat dari wilayah lain.
Namun demikian, ia tetap berusaha menjaga profesionalisme dengan mendengarkan keluhan secara utuh dan merespons secara tenang hingga situasi dapat diredakan.
“Pernah ada penelepon yang marah cukup lama karena merasa tidak mendapat respons. Saya tetap mendengarkan dan meminta maaf, hingga akhirnya komunikasi bisa ditutup dengan baik.” BRIGPOL Anggara Krishna Laksmana.
Di sisi lain, terdapat pula momen mengharukan yang dirasakan saat masyarakat menunjukkan rasa terima kasih kepada kepolisian. Salah satunya ketika seorang warga meminta bantuan untuk menghubungi anggota Polwan yang pernah menolongnya sebagai bentuk apresiasi.
Pengalaman tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi operator dalam menjalankan tugasnya, bahwa kehadiran layanan 110 benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Pernah ada warga yang ingin memberikan oleh-oleh kepada anggota Polwan yang pernah membantunya, dan kami membantu mencarikan kontaknya. Hal seperti itu sangat mengharukan bagi kami.” BRIGPOL Anggara Krishna Laksmana.
Anggara menegaskan bahwa menjadi operator 110 tidak hanya membutuhkan ketahanan fisik, tetapi juga mental yang kuat. Lonjakan panggilan saat musim mudik menuntut operator untuk tetap fokus, stabil secara emosional, dan mampu memberikan pelayanan terbaik dalam berbagai kondisi.
Ia juga menyampaikan bahwa layanan 110 memiliki peran strategis sebagai penghubung antara masyarakat dan kepolisian di lapangan. Selain itu, layanan ini juga menjadi salah satu indikator bagi pimpinan dalam mengambil keputusan terkait situasi kamtibmas.
“Layanan 110 sangat penting sebagai jembatan antara masyarakat dengan kepolisian, sekaligus mempercepat pelayanan dan menjadi dasar pengambilan keputusan di lapangan.” BRIGPOL Anggara Krishna Laksmana.
Seiring meningkatnya pemanfaatan layanan ini, Anggara mengimbau masyarakat untuk menggunakan call center 110 secara bijak dan tidak melakukan panggilan palsu yang dapat mengganggu pelayanan kepada masyarakat lain yang membutuhkan.
Ia juga berharap ke depan layanan 110 dapat terus ditingkatkan, baik dari sisi jaringan, sistem, maupun kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan yang berkelanjutan.
“Harapan kami ke depan, sistem dan jaringan bisa lebih optimal serta ada pelatihan bagi operator agar pelayanan semakin maksimal.” BRIGPOL Anggara Krishna Laksmana.
Dengan dedikasi para operator 110 Polres Klaten yang bekerja di balik layar, layanan ini diharapkan terus menjadi solusi cepat dan andal bagi masyarakat, khususnya dalam menghadapi dinamika arus mudik yang padat dan penuh tantangan.



